"Ketulusan pun disamarkan"
Yang Tersisa Setelah Warna Pudar
Di telapak yang menggenggam,
ada sepotong hijau
yang pernah percaya
bahwa tumbuh
tak harus disaksikan.
Namun dunia
terlalu pandai
mencampur terang dengan bayang.
Yang jujur disebut naif.
Yang tulus dianggap siasat.
Yang diam dituduh menyembunyikan sesuatu.
Lalu,
sedikit demi sedikit,
warna kehilangan namanya.
Ungu menjadi luka
yang enggan mengaku sakit.
Emas menjadi cahaya
yang malu menyebut dirinya harapan.
Hijau tinggal serpihan
yang berusaha mengingat
mengapa ia pernah hidup.
Tak ada wajah
yang bisa menjelaskan
betapa lelahnya
menjaga hati
agar tetap bening.
Sebab di zaman
ketika topeng lebih dipercaya
daripada mata,
ketulusan pun
belajar berbicara pelan,
hingga suaranya
tak lagi terdengar.
Dan akhirnya...
ia tidak mati.
Ia hanya berdiri
di sudut paling sunyi,
menggenggam dirinya sendiri,
sementara dunia
terus berjalan,
hingga ketulusan
pun disamarkan.
---

0 comments :
Posting Komentar