Review

Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2026

Jaadugar: Anime yang Mengajarkan Bahwa Pengetahuan Bisa Lebih Menakutkan daripada Pedang



Sebagian besar anime berlatar peperangan biasanya mengajarkan satu hal yang sama: orang yang paling kuat akan bertahan hidup. Pedang yang lebih tajam, pasukan yang lebih besar, atau tokoh utama yang memiliki kekuatan luar biasa hampir selalu menjadi penentu akhir cerita.

Namun, Jaadugar: A Witch in Mongolia justru berjalan ke arah yang berbeda.

Anime ini tidak memperlihatkan seorang gadis yang bangkit demi membalas dendam dengan mengangkat senjata. Sebaliknya, ia memilih sesuatu yang jauh lebih berbahaya: menggunakan pengetahuan.

Awalnya aku mengira judul "A Witch in Mongolia" benar-benar akan menghadirkan kisah fantasi tentang seorang penyihir. Nyatanya, "penyihir" di sini hanyalah sebuah julukan. Tidak ada mantra, tidak ada lingkaran sihir, dan tidak ada ledakan cahaya seperti yang biasa kita temukan dalam anime fantasi.

Yang ada hanyalah seorang perempuan yang menyadari bahwa kecerdasan mampu mengubah arah sejarah.

Di situlah letak menariknya.


Anime ini mengambil latar abad ke-13 ketika Kekaisaran Mongol sedang berada di puncak kejayaannya. Di tengah ekspansi besar-besaran tersebut, hiduplah seorang gadis Persia bernama Sitara yang kehilangan hampir seluruh hidupnya akibat invasi Mongol.

Jika ini anime biasa, mungkin Sitara akan berlatih bertahun-tahun, menemukan guru legendaris, lalu kembali sebagai pendekar yang membantai musuh satu per satu.

Namun, Sitara memilih jalan yang jauh lebih realistis.

Ia belajar.

Belajar membaca.

Belajar memahami manusia.

Belajar politik.

Belajar bagaimana sebuah kerajaan sebenarnya tidak hanya berdiri di atas kekuatan militer, tetapi juga di atas kepercayaan, informasi, dan keputusan-keputusan kecil yang dibuat orang-orang di dalamnya.

Saat itulah aku mulai merasa bahwa judul "penyihir" bukanlah sebuah kebetulan.

Bagi orang-orang pada masa itu, seseorang yang mampu memengaruhi keadaan hanya melalui kata-kata dan pikirannya tentu akan terlihat seperti memiliki kekuatan gaib.

Padahal yang mereka lihat bukanlah sihir.

Melainkan ilmu.


Aku juga menyukai bagaimana Jaadugar tidak mencoba menggambarkan balas dendam sebagai sesuatu yang heroik.

Sitara memang menyimpan kebencian kepada Mongol. Akan tetapi, seiring cerita berjalan, dendam bukan lagi menjadi tujuan utamanya. Ia mulai memahami bahwa mengubah sebuah sistem jauh lebih sulit daripada mengalahkan satu orang.

Dan mungkin, jauh lebih berarti.

---




Kamis, 04 Februari 2021

Hyouka: Anime yang Secara Tidak Langsung Mengajarkan Kita untuk Berdiskusi


Yup, pada hari ini saya akan membagi sedikit review positif yang mana dapat saya ambil dari anime tentang kehidupan sekolah di Jepang, berjudul “Hyouka”.

Sebelumnya, boleh tau dulu tentang anime ini:

Judul                     : Hyouka (氷菓)

Episode                : 22

Studio                   : Kyoto Animation

Status                   : Telah Rilis

Sumber                : Novel


Cuplikan Animasi Hyouka


Nah, anime yang dielu-elukan dengan kedua karakter iconicnya yakni Oreki Houtarou dan Chitanda Eru ini mengisahkan tentang kehidupan abu-abu Houtarou yang kemudian berubah beriring dekatnya ia dengan sang heroine, Chitanda Eru.


Dari anime ini kita dapat mengambil sisi positif di mana karakter utama yakni Oreki Houtarou memiliki moto berupa “Lakukan atau tidak sama sekali, jika ingin melakukannya maka lakukan dengan cepat”. Oreki di sini  memiliki sifat karakter yang unik, bisa dibilang pemalas namun dia sebenarnya tidaklah malas, hanya menghemat energi. Dalam hal ini, peran seorang Oreki yang suka menghemat, ditutupi dan diisi dengan peran seorang Chitanda Eru yang selalu bersemangat dan membuat seorang Oreki yang “pemalas” tidak terbelenggu dengan kemalasan negatif.

Dari beberapa rangkuman cerita, bisa kita ambil beberapa sisi positifnya sebagai berikut:
1. Peletakan sikap hemat energi Oreki yang cocok pada tempatnya, bisa dicontoh dalam penghematan energi dalam menghindari kegiatan yang sia-sia. Bukan menghindari kegiatan yang bermanfaat lho ya!

2. Rasa penasaran, dari Chitanda Eru. Rasa penasaran mampu memberikan kemampuan berfikir kritis terhadap seseorang, maka perlu dikembangkan dan diletakkan pada tempat yang sesuai.

3. Rasa tanggung jawab, meskipun Oreki seseorang yang minim dalam pergaulan dengan teman-temannya, namun dia memiliki rasa tanggung jawab yang cukup tinggi. Misalnya saat dia mengisi berbagai peran dalam membantu dibuatnya antalogi Hyouka. Walaupun ia tidak selalu dapat memenuhi apa yang diminta oleh teman sekelompoknya, namun ia menggantinya dengan mengisi peran yang dapat dilakukan olehnya.

Mungkin ini dahulu yang dapat saya sampaikan dalam review kali ini, jika ada masukan silahkan isi di komentar ya!!