Di telapak yang menggenggam,
ada sepotong hijau
yang pernah percaya
bahwa tumbuh
tak harus disaksikan.
Namun dunia
terlalu pandai
mencampur terang dengan bayang.
Yang jujur disebut naif.
Yang tulus dianggap siasat.
Yang diam dituduh menyembunyikan sesuatu.
Lalu,
sedikit demi sedikit,
warna kehilangan namanya.
Ungu menjadi luka
yang enggan mengaku sakit.
Emas menjadi cahaya
yang malu menyebut dirinya harapan.
Hijau tinggal serpihan
yang berusaha mengingat
mengapa ia pernah hidup.
Tak ada wajah
yang bisa menjelaskan
betapa lelahnya
menjaga hati
agar tetap bening.
Sebab di zaman
ketika topeng lebih dipercaya
daripada mata,
ketulusan pun
belajar berbicara pelan,
hingga suaranya
tak lagi terdengar.
Dan akhirnya...
ia tidak mati.
Ia hanya berdiri
di sudut paling sunyi,
menggenggam dirinya sendiri,
Alkisah, seorang pemuda yang sedang menghampiri teman asramanya, kemudian sekilas melihat sebuah buku berwarna hijau terletak dalam lemari temannya.
"Iz, kau punya buku ini! Ane pinjam ya?" sontak ia berucap pada kawannya itu.
"Memang mau ente apakan nith? balasnya.
Sembari membolak-balikkan halaman dari buku itu, dengan semangat pemuda itu mengangguk sekali. Kemudian membalas pertanyaan kawannya.
"Ane ingin belajar, boleh ane pinjam untuk fotokopi kan?"
"Boleh. Tapi kamu bisa itu bacanya?" Tanya kawannya lagi penasaran dengan kemampuan sang pemuda tersebut. Karena ia tau, buku hijau itu tak wajar berada di lingkungan asrama tersebut.
"Bisa kok!" ucapnya dengan semangat membara. "Ini ane butuh untuk meningkatkan struktur kemampuan bahasa ane!" tambahnya.
"Itu buku sebetulnya sudah lama ane beli. Iseng aja, penasaran sama isinya. Tapi hingga saat ini ane belum mampu dan masih bingung bacanya. Jadi kalau ente bisa, silahkan saja fotokopi."
"Okeeeeee!"
"Tapi nanti jangan lupa ajarin ane ya nith!"
"Siaaaaaaaap!"
---
Selang beberapa tahun kemudian, mereka sudah pada masa pemuda yang aktif ngampus a.k.a Mahasiswa di sebuah universitas antah-berantah. Ternyata mereka bertemu kembali di kampus yang sama.
"Iz, mumpung nih. ayo buat UKM*!"
*UKM: Unit Kegiatan Mahasiswa (Ekstrakulikuler lah kalau di sekolahan.)
"Ayo aja mah kalau belajar bareng. Tapi siapa yang nanti jadi Pembimbingnya?"
"Sementara ini biar aku yang lead dan bimbing. Nanti kedepannya kita undang dosen-dosen yang kiranya punya insight ke sana!"
"Siap, aku jadi anggota nomor satunya."
Mereka pun membentuk UKM tersebut dengan beberapa anggota tambahan lainnya berminat sama.
---
Satu dekade telah berlalu. Ada satu anggota yang berhasil menuju pulau impian dari pembelajaran bersama tersebut. Namun bukan ..nith maupun ..iz. Ini adalah cerita tentang semangat yang dahulu dipupuk seorang pemuda berjiwa besar, dirawat bersama yang lainnya. Namun hasil panen masih belum nampak baginya. Sedangkan kawannya. yang tidak menjadi fokus cerita. Mampu mengembangkan pembelajaran hingga di tanah-antah berantah tersebut.
Iz dan Nith kini terpisah. Jaraklah yang memisahkan mereka. Awalnya tetap bertukar kabar. Namun bukan mimpi tersebut yang paling sering tuk ditukarkan. Kini, di tanah yang berbeda-beda. Perjuangan mereka masih belum usai. Bertukar kabar juga sudah semakin tidak memungkinkan bagi mereka.
Mungkin masih ada api semangat yang masih berkobar redup di hati mereka. Menantikan saatnya ia untuk membesar kembali atas izin Sang Pemelihara.
Untukmu, kutitipkan pesan dan cerita ini sebagai do'a.
Tahun lalu berjuta alasanku
去年の私は、何百万もの言い訳を並べていた
Kyonen no watashi wa, nanbyakuman mo no iiwake wo narabete ita
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan
「収入がギリギリだから帰れない、ごめんね」と
「Shūnyū ga girigiri dakara kaerenai, gomen ne」to
Kali ini sudah lumayan
今回は、そこそこ余裕ができたよ
Konkai wa, sokosoko yoyū ga dekita yo
Berkat doamu di ijabah sang maha kaya
最も豊かな神様が、あなたの祈りに応えてくれたおかげで
Mottomo yutaka na kamisama ga, anata no inori ni kotaete kureta okage de
Dan tahun ini kubisa pulang
そして今年、私は帰ることができた
Soshite kotoshi, watashi wa kaeru koto ga dekita
Oleh-oleh sudah ditangan
お土産もこの手にあるのに
Omiyage mo kono te ni aru noni
Tapi anehnya bukan kau yang menyambutku
だけど不思議なことに、出迎えてくれたのはあなたじゃない
Dakedo fushigi na koto ni, demukaete kureta no wa anata janai
Oh ternyata kau yang lebih dulu pulang
あぁ、あなたの方が先に「帰って」しまったんだね
Aa, anata no hō ga saki ni 「kaette」 shimattan da ne
Ku bertamu ke rumah barumu
あなたの新しい家を訪ねたけれど
Anata no atarashii ie wo tazuneta keredo
Tak ada kamu, hanya papan dan namamu
そこにあなたはいない、ただ木の板とあなたの名前があるだけ
Soko ni anata wa inai, tada ki no ita to anata no namae ga aru dake
Mana ocehan wewangian khasmu
あなたの小言は、あなたらしいあの香りはどこへ行ったの?
Anata no kogoto wa, anata rashii ano kaori wa doko e itta no?
Jarak ini terlalu jauh
この距離は、あまりにも遠すぎる
Kono kyōri wa, amari ni mo tōsugiru
Kalau rindu aku tak mampu
恋しさに、私は耐えられそうにない
Koishisa ni, watashi wa taerare sō ni nai
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
「受け入れる」ということに関して、私はまだ素人だったみたいだ
「Ukeireru」 to iu koto ni kanshite, watashi wa mada shirōto datta mitai da
Gengsi menyelimutiku
ちっぽけなプライドにしがみついていた
Chippoke na puraido ni shigamitsuite ita
Manusia ini kehilanganmu, ha-ha-ha-ha
この人間は、あなたを失ってしまったんだ ha-ha-ha-ha
Kono ningen wa, anata wo ushinatte shimattan da ha-ha-ha-ha
Sesi potret yang selalu ku benci
いつも大嫌いだった、写真撮影の時間
Itsumo daikirai datta, shashin satsuei no jikan
Aneh rasanya kau tak di sini
ここにあなたがいないなんて、妙な感じがするよ
Koko ni anata ga inai nante, myō na kanji ga suru yo
Susunan barisannya tak sama lagi
並ぶ順番も、もう前とは違っている
Narabu junban mo, mō mae to wa chigatte iru
Oh ho ho satu dua tiga, ini nyata kau telah pergi
Oh ho ho いち、に、の、さん。これは現実、あなたは行ってしまった
Oh ho ho ichi, ni, no, san. Kore wa genjitsu, anata wa itte shimatta
Ku bertamu kerumah barumu
あなたの新しい家を訪ねたけれど
Anata no atarashii ie wo tazuneta keredo
Tak ada kamu, hanya papan dan namamu
そこにあなたはいない、ただ木の板とあなたの名前があるだけ
Soko ni anata wa inai, tada ki no ita to anata no namae ga aru dake
Mana ocehan wewangian khasmu
あなたの小言は、あなたらしいあの香りはどこへ行ったの?
Anata no kogoto wa, anata rashii ano kaori wa doko e itta no?
Jarak ini terlalu jauh
この距離は、あまりにも遠すぎる
Kono kyōri wa, amari ni mo tōsugiru
Kalau rindu aku tak mampu
恋しさに、私は耐えられそうにない
Koishisa ni, watashi wa taerare sō ni nai
Sesal hatiku tak sempat temani kamu
あなたに寄り添う時間がなかったこと、心から後悔している
Anata ni yorisou jikan ga nakatta koto, kokoro kara kōkai shite iru
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu
あなたの耳元で、あの魔法の言葉を囁くべきだったのに
Anata no mimimoto de, ano mahō no kotoba wo sasayaku beki datta noni
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
「受け入れる」ということに関して、私はまだ素人だったみたいだ
「Ukeireru」 to iu koto ni kanshite, watashi wa mada shirōto datta mitai da
Masih sangat amatir
まだ、本当に未熟なままだ
Mada, hontō ni mijuku na mama da
Gengsi menyelimutiku
ちっぽけなプライドにしがみついていた
Chippoke na puraido ni shigamitsuite ita
Manusia ini kehilanganmu
この人間は、あなたを失ってしまった
Kono ningen wa, anata wo ushinatte shimatta
Kehilanganmu
あなたを失ってしまったんだ
Anata wo ushinatte shimattan da
-----
Judul Lagu : Sesi Potret Artist : enau x Ari Lesmana
Ada titik-titik di ujung doa
祈りの終わりの、その点々に
Inori no owari no, sono tenten ni
Doa keselamatan penutup malam
夜を締めくくる、平穏への祈り
Yoru wo shimekuru, heion e no inori
Yang harus diisi nama
名前を書き込むべきその場所に
Namae wo kakikomu beki sono basho ni
Maka kuisi dengan namamu
私はあなたの名前をつづる
Watashi wa anata no namae wo tsuzuru
Nama lengkapmu hurufnya kuhias berjuta warna
あなたのフルネームを、何百万もの色で飾り
Anata no furunēmu wo, nanbyakuman mo no iro de kazari
Sebisanya aku gambarkan juga bunga-bunga
できる限り、たくさんの花も描いてみる
Dekiru kagiri, takusan no hana mo gaite miru
Lengkap dengan kupu-kupu terbang di sekitarnya oh-oh-uh-yeah
その周りを飛び回る、蝶々も添えて oh-oh-uh-yeah
Sono mawari wo tobimawaru, chōchō mo soete oh-oh-uh-yeah
Aku mencoba gambarkan juga bentuk wajahmu
あなたの顔の輪郭も、描こうとしてみるけれど
Anata no kao no rinkaku mo, gakō to shite miru keredo
Meski yang kuingat matamu saja
覚えているのは、その瞳だけ
Oboete iru no wa, sono hitomi dake
Kalau jelek kamu jelas ga boleh marah-marah
下手に描けても、怒ったりしないでね
Heta ni gakete mo, okottari shinai de ne
Kapan terakhir bertemu bahkan ku sudah lupa oh-oh-uh
最後に会ったのがいつかも、もう忘れてしまったけれど oh-oh-uh
Saigo ni atta no ga itsu ka mo, mō wasurete shimatta keredo oh-oh-uh
Ada titik-titik di ujung doa-doa
祈りの終わりの、その点々に
Inori no owari no, sono tenten ni
Keselamatan penutup malam
夜を締めくくる、平穏への祈り
Yoru wo shimekuru, heion e no inori
Kuisi dengan namamu
あなたの名前をつづる
Anata no namae wo tsuzuru
Kucoba memaafkanmu selalu
いつもあなたを許そうとしている
Itsumo anata wo yurusō to shite iru
Kalau disitu ada salahku, maafkanku juga
もし私にも過ちがあったなら、どうか許して
Moshi watashi ni mo ayamachi ga atta nara, dōka yurushite
Ini rasanya sulit sekali
これは本当に、とても苦しいこと
Kore wa hontō ni, totemo kurushii koto
Ingat hatiku dihancurkan jadi berkeping-keping
私の心が、粉々に壊されたことを思い出すから
Watashi no kokoro ga, konagona ni kowasareta koto wo omoidasu kara
Hari ini aku coba merakitnya lagi
今日、私はそれをまた組み立て直そうとしている
Kyō, watashi wa sore wo mata kumitate naosō to shite iru
Meski kalau diamati, agak aneh bentuknya ah ah ah
よく見ると、少し歪な形をしているけれど ah ah ah
Yoku miru to, sukoshi ibitsu na katachi wo shite iru keredo ah ah ah
Ada titik-titik di ujung doa-doa
祈りの終わりの、その点々に
Inori no owari no, sono tenten ni
Keselamatan penutup malam
夜を締めくくる、平穏への祈り
Yoru wo shimekuru, heion e no inori
Kuisi dengan namamu
あなたの名前をつづる
Anata no namae wo tsuzuru
Kucoba memaafkanmu selalu
いつもあなたを許そうとしている
Itsumo anata wo yurusō to shite iru
Kalau disitu ada salahku, maafkanku juga
もし私にも過ちがあったなら、どうか許して
Moshi watashi ni mo ayamachi ga atta nara, dōka yurushite
Ada titik-titik di ujung doa-doa
祈りの終わりの、その点々に
Inori no owari no, sono tenten ni
Keselamatan penutup malam
夜を締めくくる、平穏への祈り
Yoru wo shimekuru, heion e no inori
Kuisi dengan namamu
あなたの名前をつづる
Anata no namae wo tsuzuru
Kucoba memaafkanmu selalu
いつもあなたを許そうとしている
Itsumo anata wo yurusō to shite iru
Terselipkah aku disana, di doa doamu juga
そちらの祈りの中にも、私はそっと紛れ込んでいますか?
Sochira no inori no naka ni mo, watashi wa sotto magirekonde imasu ka?
Ada titik-titik
点々があるの
Tenten ga aru no
-----
Judul Lagu : Titik-titik di Ujung Doa Artist : Sal Priadi
Sebagian besar anime berlatar peperangan biasanya mengajarkan satu hal yang sama: orang yang paling kuat akan bertahan hidup. Pedang yang lebih tajam, pasukan yang lebih besar, atau tokoh utama yang memiliki kekuatan luar biasa hampir selalu menjadi penentu akhir cerita.
Namun, Jaadugar: A Witch in Mongolia justru berjalan ke arah yang berbeda.
Anime ini tidak memperlihatkan seorang gadis yang bangkit demi membalas dendam dengan mengangkat senjata. Sebaliknya, ia memilih sesuatu yang jauh lebih berbahaya: menggunakan pengetahuan.
Awalnya aku mengira judul "A Witch in Mongolia" benar-benar akan menghadirkan kisah fantasi tentang seorang penyihir. Nyatanya, "penyihir" di sini hanyalah sebuah julukan. Tidak ada mantra, tidak ada lingkaran sihir, dan tidak ada ledakan cahaya seperti yang biasa kita temukan dalam anime fantasi.
Yang ada hanyalah seorang perempuan yang menyadari bahwa kecerdasan mampu mengubah arah sejarah.
Di situlah letak menariknya.
Anime ini mengambil latar abad ke-13 ketika Kekaisaran Mongol sedang berada di puncak kejayaannya. Di tengah ekspansi besar-besaran tersebut, hiduplah seorang gadis Persia bernama Sitara yang kehilangan hampir seluruh hidupnya akibat invasi Mongol.
Jika ini anime biasa, mungkin Sitara akan berlatih bertahun-tahun, menemukan guru legendaris, lalu kembali sebagai pendekar yang membantai musuh satu per satu.
Namun, Sitara memilih jalan yang jauh lebih realistis.
Ia belajar.
Belajar membaca.
Belajar memahami manusia.
Belajar politik.
Belajar bagaimana sebuah kerajaan sebenarnya tidak hanya berdiri di atas kekuatan militer, tetapi juga di atas kepercayaan, informasi, dan keputusan-keputusan kecil yang dibuat orang-orang di dalamnya.
Saat itulah aku mulai merasa bahwa judul "penyihir" bukanlah sebuah kebetulan.
Bagi orang-orang pada masa itu, seseorang yang mampu memengaruhi keadaan hanya melalui kata-kata dan pikirannya tentu akan terlihat seperti memiliki kekuatan gaib.
Padahal yang mereka lihat bukanlah sihir.
Melainkan ilmu.
Aku juga menyukai bagaimana Jaadugar tidak mencoba menggambarkan balas dendam sebagai sesuatu yang heroik.
Sitara memang menyimpan kebencian kepada Mongol. Akan tetapi, seiring cerita berjalan, dendam bukan lagi menjadi tujuan utamanya. Ia mulai memahami bahwa mengubah sebuah sistem jauh lebih sulit daripada mengalahkan satu orang.
Akhirnya aku melangkah sejauh ini. Awalnya aku melangkah untuk peduli kepada orang di sekitarku yang peduli terhadapku. Namun kini, semakin diriku dewasa semakin aku merasakan kesendirian dalam langkah-langkahku.
Orang yang dulu peduli terhadapku, semakin beriring waktu mulai memiliki kehidupan pribadinya. Meninggalkanku seorang diri. Rasa peduliku pun semakin surut untuknya...
Tumbuh rasa kecewa di dalam diri. Dan juga mengecewakan orang yang kita peduli terhadapnya. Ingin rasanya mengumpat, memaki-maki kehidupan yang rasanya tak adil...
Ternyata dirikulah yang tak adil. Dimulai dengan tak adil terhadap diri sendiri.
Banyak hal sebetulnya, yang aku sesali. Kenapa aku tidak berjuang lebih banyak daripada yang lainnya.
Namun bagaimana lagi...
Inilah takdir, penyesalanku telah terjadi akibat ulahku di masa lalu. Namun apakah penyesalan ini akan terulang di hari-hari yang akan datang? Itu semua tergantung kepada bagaimana aku akan menyikapi diriku di masa ini.
Jika hanya penyesalan yang dibawa, ia tak akan mengubah diriku. Penyesalan yang terus menerus tak membuahkan hasil diriku yang adil. Bahkan terhadap diriku sendiri.
Jika itu yang kita perlukan, kenapa justru semakin membuat kita terpuruk?
Maka untuk mengubah keadaan ini. Langkah yang akhir-akhir ini aku tapaki ternyata mengubahku. Oh, jadi hanya butuh berbuat? Kenapa aku tidak berbuat sejak dahulu? Pikirku yang baru menyadari bahwa inilah kuncinya.
Perubahan diri harus dimulai dengan langkah pertama...
Fokus terhadap diri sendiri, dan mulai mengabaikan hal sekitar yang tidak meningkatkan dirimu. Memang terasa semakin sepi. Tapi inilah kebutuhanmu walau awalnya kau benci.
Selang beberapa waktu...
Kau sekarang sudah bisa mempengaruhi orang lain. Mewarnai kanvas-kanvas generasi selanjutnya. Apakah warna yang kau sodorkan itu warna yang cerah ataupun warna yang hitam legam?
Aku tak tahu, namun harusnya kau memberikan warna yang cerah.
Supaya menjadi bukti. Bukti yang nyata engkau menorehkan warnamu.
Canvas-canvas itulah yang akan menjadi saksimu. Bahwa engkau yang telah menorehkan warna indah kepada mereka.
Satu hal yang perlu kau ingat kembali, bahwa sumber warna yang indah itu bukan dirimu. Namun dari Pemilik seluruh keindahan. Yang juga telah memberikan banyak sekali warna terhadap hidup kita.
Hidup ini belum usai kawan. Selama nafas masih berhembus. Jiwa masih bergejolak. Dan raga masihlah bergerak. Bergeraklah semampumu. Warnailah canvas seindah maupun sebanyak mungkin. Karena engkau telah mengetahui asal usul dan jati dirimu, maka mulailah dari sekarang!
Akhir-akhir ini saya mendapatkan sebuah catatan yang baru saya dapatkan melalui banyak sekali catatan dan video yang tersebar di internet, catatan ini sudah menjadi catatan yang terkenal di kalangan ilmuwan matematika, dan saya sebagai guru Informatika saat ini baru mendengarnya. Catatan ini membuat saya tertarik, dan kumuat di blog ini.
Catatan ini adalah milik Kurt Godel, ilmuwan asal Austria dan berkebangsaan Jerman. Ilmuwan yang hidup semasa dengan Albert Einstein dan merupakan sahabat karibnya yang mana sering dijumpai Einstein berjalan bersama Godel.
Kurt Gödel
Langsung saja kita mengenal Teorema terkenal yang telah disusun oleh Godel, yang membahas bahwa sesuatu itu tidak bisa menyatakan bahwa ia sendiri itu lengkap. Teorema ini disebut sebagai teorema ketidaklengkapan miliknya.
Yup, pada hari ini saya akan membagi
sedikit review positif yang mana dapat saya ambil dari anime tentang kehidupan
sekolah di Jepang, berjudul “Hyouka”.
Sebelumnya, boleh tau dulu tentang anime
ini:
Judul:
Hyouka (氷菓)
Episode:
22
Studio:
Kyoto Animation
Status:
Telah Rilis
Sumber:
Novel
Cuplikan Animasi Hyouka
Nah, anime yang dielu-elukan dengan kedua
karakter iconicnya yakni Oreki Houtarou dan Chitanda Eru ini mengisahkan
tentang kehidupan abu-abu Houtarou yang kemudian berubah beriring dekatnya ia
dengan sang heroine, Chitanda Eru.
Dari anime ini kita dapat mengambil sisi positif di mana karakter utama yakni Oreki
Houtarou memiliki moto berupa “Lakukan atau tidak sama sekali, jika ingin
melakukannya maka lakukan dengan cepat”. Oreki di sinimemiliki sifat karakter yang unik, bisa
dibilang pemalas namun dia sebenarnya tidaklah malas, hanya menghemat energi. Dalam
hal ini, peran seorang Oreki yang suka menghemat, ditutupi dan diisi dengan
peran seorang Chitanda Eru yang selalu bersemangat dan membuat seorang Oreki
yang “pemalas” tidak terbelenggu dengan kemalasan negatif.
Dari beberapa rangkuman cerita, bisa kita ambil beberapa sisi positifnya
sebagai berikut:
1. Peletakan sikap hemat energi Oreki yang cocok pada tempatnya, bisa dicontoh
dalam penghematan energi dalam menghindari kegiatan yang sia-sia. Bukan
menghindari kegiatan yang bermanfaat lho ya!
2. Rasa penasaran, dari Chitanda Eru. Rasa penasaran
mampu memberikan kemampuan berfikir kritis terhadap seseorang, maka perlu dikembangkan
dan diletakkan pada tempat yang sesuai.
3. Rasa tanggung jawab, meskipun Oreki
seseorang yang minim dalam pergaulan dengan teman-temannya, namun dia memiliki
rasa tanggung jawab yang cukup tinggi. Misalnya saat dia mengisi berbagai peran
dalam membantu dibuatnya antalogi Hyouka. Walaupun ia tidak selalu dapat
memenuhi apa yang diminta oleh teman sekelompoknya, namun ia menggantinya
dengan mengisi peran yang dapat dilakukan olehnya.
Mungkin ini dahulu yang dapat saya sampaikan dalam review kali ini, jika ada masukan
silahkan isi di komentar ya!!
Yup, pada kali ini saya akan membagikan sedikit karya yang telah susah payah dibuat oleh dua orang muslim...
Manga ini dibuat oleh dua orang mangaka Hamed Nouri dan Harihtaroon, yang mana manga ini dipublis di situs Muslim Manga.
Manga ini bertajuk tentang kisah cinta seorang gadis jepang yang bernama Hana (花), seorang gadis sekolah yang jatuh cinta terhadap seorang pemuda yang ia temui. Untuk kelanjutannya bisa kita nikmati bersama hasil karya dakwah melalui media manga ini...
Pokoknya mantap lah perancangan ceritanya, maka dari itu mari kita support media yang seperti ini guna memberikan alternatif dakwah di masa dewasa ini.
untuk manga lebih lengkapnya bisa kalian lihat di sumbernya, check it up!