Syairku

Tampilkan postingan dengan label Syairku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syairku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2026

Senja di Tepi Takdir


Biar kutuliskan jawabnya di lembar berdebu,
di bawah langit senja yang mulai membisu.
Segala yang pergi hanyalah cara-Nya menyapa,
menuntun jemari menuliskan kisah yang beda.

Bukan kehilangan yang sedang kau ratapi,
melainkan jeda agar hatimu kembali rapi.
Di tepi sungai kehidupan yang terus mengalir,
akan kau dapati indah di penghujung takdir.

Maka simpan pena dan goresan lukamu,
biarkan jingga menenangkan gelisahmu.
Sebab janji-Nya pasti, terang 'kan menyapa,
setelah gelap senja berlalu tanpa sisa.

Minggu, 30 Agustus 2026

Racikan Takdir



Apakah ini rasa ditinggal pudar,
atau racikan takdir yang sengaja ditukar?
Sebab yang diambil mungkin cuma hal yang fana,
agar hidupmu penuh bumbu, jauh lebih bermakna.

Luka yang singgah bukan tanda kau kalah,
tapi ramuan sabar agar jiwamu tak patah.
Tenanglah, Yang Maha Pengatur tak pernah keliru,
Dia mengosongkan genggamanmu untuk hal yang baru.

Jadi, biarkan saja takdir selesai meramu,
Tuhan tak pernah salah menakar porsi untukmu.
Meski awalnya pahit dan sempat buat terluka,
Kelak kau tersenyum, mengecap manisnya bahagia.

Jumat, 24 Juli 2026

Ruang yang Tak Dijangkau Senja




“Mā aḍyaqal-'aysya law lā fusḥatul-amal.”
Alangkah sempitnya hidup ini kalau tidak karena luasnya cita-cita.

Di saat jalan terasa menyempit,
dan langkah tertahan oleh lelah yang tak bersuara,
harapan datang membuka jendela langit,
mengajarkan bahwa esok selalu memiliki cahaya.

Bukan panjang umur yang paling mulia,
melainkan umur yang dipenuhi jejak manfaat.
Bukan banyaknya hari yang dikenang,
melainkan banyaknya hati yang disentuh dengan kebaikan.

Betapa indah memiliki saudara
yang tak bosan mengingatkan kepada kebenaran,
yang menggenggam tangan ketika iman melemah,
dan berbisik lembut,
"Bersabarlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."

Silaturahmi semacam itu
adalah taman yang menumbuhkan keberkahan.
Ia memperpanjang usia—
bukan sekadar hitungan tahun,
tetapi usia yang terus hidup
dalam doa, dalam ilmu, dalam amal,
dan dalam kenangan baik yang tak lekang oleh waktu.

Maka jangan biarkan harapan mengecil,
dan jangan biarkan tali persaudaraan terputus.
Sebab selama masih ada cita-cita yang diridai-Nya,
selama masih ada saudara yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran,
hidup akan selalu memiliki ruang untuk bertumbuh,
dan nama kita akan tetap hidup
di dalam kebermanfaatan.

Kamis, 23 Juli 2026

"Ketulusan pun disamarkan"


 Yang Tersisa Setelah Warna Pudar

Di telapak yang menggenggam,
ada sepotong hijau
yang pernah percaya
bahwa tumbuh
tak harus disaksikan.

Namun dunia
terlalu pandai
mencampur terang dengan bayang.

Yang jujur disebut naif.
Yang tulus dianggap siasat.
Yang diam dituduh menyembunyikan sesuatu.

Lalu,
sedikit demi sedikit,
warna kehilangan namanya.

Ungu menjadi luka
yang enggan mengaku sakit.
Emas menjadi cahaya
yang malu menyebut dirinya harapan.
Hijau tinggal serpihan
yang berusaha mengingat
mengapa ia pernah hidup.

Tak ada wajah
yang bisa menjelaskan
betapa lelahnya
menjaga hati
agar tetap bening.

Sebab di zaman
ketika topeng lebih dipercaya
daripada mata,
ketulusan pun
belajar berbicara pelan,
hingga suaranya
tak lagi terdengar.

Dan akhirnya...

ia tidak mati.

Ia hanya berdiri
di sudut paling sunyi,
menggenggam dirinya sendiri,

sementara dunia
terus berjalan,

hingga ketulusan
pun disamarkan.

---



Rabu, 10 Mei 2023

Temani Aku!



 
Aku mengingat kembali

udara segar berhembus kepadaku lagi

badai telah berlalu

memberikan rasa indah di hati sedihku


Perlahan ku telah merangkak padamu

walau banyak rintangan bersemayam di hatiku

pikirku tak bisa

tapi hujan telah reda


Tak boleh lah aku menyiakan kesempatan ini lagi

tak boleh lah aku jatuh ke kubangan lumpur kembali

bersihkan pakaianmu

kenakan semangat dalam jiwamu


----

10 April 2023

Kamis, 02 Juni 2022

Kedai Makanan




Aku telah lalai dengan badai yang kuhadapi dahulu,

Yang tercipta akibat ulahku.


Saat aku tersipu di dalam senja yang sendu,

Mendengar lantunan kalimat yang merdu, aku malu.

Sejuknya hawa yang mengitari, buatku membeku,

Memaksaku selalu menarik lengan jaketku.


Walau tak ingin, rindu tetaplah rindu,

Namun, memori tidaklah abadi.

Lalu, terhadap suatu yang kurindu,

Pasti akan terganti.


Senja yang sendu,

Lantunan yang merdu,

Udara yang membeku,

Tak mampu menahan ingatan rapuhku.


---

13 April 2021.