Renungan

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2026

Viridaria yang Tak Pernah Padam


Alkisah, seorang pemuda yang sedang menghampiri teman asramanya, kemudian sekilas melihat sebuah buku berwarna hijau terletak dalam lemari temannya.

"Iz, kau punya buku ini! Ane pinjam ya?" sontak ia berucap pada kawannya itu.

"Memang mau ente apakan nith? balasnya.

Sembari membolak-balikkan halaman dari buku itu, dengan semangat pemuda itu mengangguk sekali. Kemudian membalas pertanyaan kawannya.

"Ane ingin belajar, boleh ane pinjam untuk fotokopi kan?"

"Boleh. Tapi kamu bisa itu bacanya?" Tanya kawannya lagi penasaran dengan kemampuan sang pemuda tersebut. Karena ia tau, buku hijau itu tak wajar berada di lingkungan asrama tersebut. 

"Bisa kok!" ucapnya dengan semangat membara. "Ini ane butuh untuk meningkatkan struktur kemampuan bahasa ane!" tambahnya.

"Itu buku sebetulnya sudah lama ane beli. Iseng aja, penasaran sama isinya. Tapi hingga saat ini ane belum mampu dan masih bingung bacanya. Jadi kalau ente bisa, silahkan saja fotokopi."

"Okeeeeee!"

"Tapi nanti jangan lupa ajarin ane ya nith!"

"Siaaaaaaaap!"




---

Selang beberapa tahun kemudian, mereka sudah pada masa pemuda yang aktif ngampus a.k.a Mahasiswa di sebuah universitas antah-berantah. Ternyata mereka bertemu kembali di kampus yang sama.

"Iz, mumpung nih. ayo buat UKM*!"

*UKM: Unit Kegiatan Mahasiswa (Ekstrakulikuler lah kalau di sekolahan.) 

"Ayo aja mah kalau belajar bareng. Tapi siapa yang nanti jadi Pembimbingnya?"

"Sementara ini biar aku yang lead dan bimbing. Nanti kedepannya kita undang dosen-dosen yang kiranya punya insight ke sana!"

"Siap, aku jadi anggota nomor satunya."

Mereka pun membentuk UKM tersebut dengan beberapa anggota tambahan lainnya berminat sama.



---

Satu dekade telah berlalu. Ada satu anggota yang berhasil menuju pulau impian dari pembelajaran bersama tersebut. Namun bukan ..nith maupun ..iz. Ini adalah cerita tentang semangat yang dahulu dipupuk seorang pemuda berjiwa besar, dirawat bersama yang lainnya. Namun hasil panen masih belum nampak baginya. Sedangkan kawannya. yang tidak menjadi fokus cerita. Mampu mengembangkan pembelajaran hingga di tanah-antah berantah tersebut.

Iz dan Nith kini terpisah. Jaraklah yang memisahkan mereka. Awalnya tetap bertukar kabar. Namun bukan mimpi tersebut yang paling sering tuk ditukarkan. Kini, di tanah yang berbeda-beda. Perjuangan mereka masih belum usai. Bertukar kabar juga sudah semakin tidak memungkinkan bagi mereka.

Mungkin masih ada api semangat yang masih berkobar redup di hati mereka. Menantikan saatnya ia untuk membesar kembali atas izin Sang Pemelihara.

Untukmu, kutitipkan pesan dan cerita ini sebagai do'a. 

--- bersambung ---

Selasa, 14 Juli 2026

Ingin Posting Saja


Setelah sekian lama... 

 Akhirnya aku melangkah sejauh ini. Awalnya aku melangkah untuk peduli kepada orang di sekitarku yang peduli terhadapku. Namun kini, semakin diriku dewasa semakin aku merasakan kesendirian dalam langkah-langkahku. 

Orang yang dulu peduli terhadapku, semakin beriring waktu mulai memiliki kehidupan pribadinya. Meninggalkanku seorang diri. Rasa peduliku pun semakin surut untuknya... 

Tumbuh rasa kecewa di dalam diri. Dan juga mengecewakan orang yang kita peduli terhadapnya. Ingin rasanya mengumpat, memaki-maki kehidupan yang rasanya tak adil... 

Ternyata dirikulah yang tak adil. Dimulai dengan tak adil terhadap diri sendiri. Banyak hal sebetulnya, yang aku sesali. Kenapa aku tidak berjuang lebih banyak daripada yang lainnya. 

Namun bagaimana lagi... 
Inilah takdir, penyesalanku telah terjadi akibat ulahku di masa lalu. Namun apakah penyesalan ini akan terulang di hari-hari yang akan datang? Itu semua tergantung kepada bagaimana aku akan menyikapi diriku di masa ini. 

Jika hanya penyesalan yang dibawa, ia tak akan mengubah diriku. Penyesalan yang terus menerus tak membuahkan hasil diriku yang adil. Bahkan terhadap diriku sendiri. 

Jika itu yang kita perlukan, kenapa justru semakin membuat kita terpuruk? 

 Maka untuk mengubah keadaan ini. Langkah yang akhir-akhir ini aku tapaki ternyata mengubahku. Oh, jadi hanya butuh berbuat? Kenapa aku tidak berbuat sejak dahulu? Pikirku yang baru menyadari bahwa inilah kuncinya. Perubahan diri harus dimulai dengan langkah pertama... 

Fokus terhadap diri sendiri, dan mulai mengabaikan hal sekitar yang tidak meningkatkan dirimu. Memang terasa semakin sepi. Tapi inilah kebutuhanmu walau awalnya kau benci. 

Selang beberapa waktu... 

Kau sekarang sudah bisa mempengaruhi orang lain. Mewarnai kanvas-kanvas generasi selanjutnya. Apakah warna yang kau sodorkan itu warna yang cerah ataupun warna yang hitam legam? 

Aku tak tahu, namun harusnya kau memberikan warna yang cerah. Supaya menjadi bukti. Bukti yang nyata engkau menorehkan warnamu. 

Canvas-canvas itulah yang akan menjadi saksimu. Bahwa engkau yang telah menorehkan warna indah kepada mereka. 

Satu hal yang perlu kau ingat kembali, bahwa sumber warna yang indah itu bukan dirimu. Namun dari Pemilik seluruh keindahan. Yang juga telah memberikan banyak sekali warna terhadap hidup kita. 

Hidup ini belum usai kawan. Selama nafas masih berhembus. Jiwa masih bergejolak. Dan raga masihlah bergerak. Bergeraklah semampumu. Warnailah canvas seindah maupun sebanyak mungkin. Karena engkau telah mengetahui asal usul dan jati dirimu, maka mulailah dari sekarang!

Ingat sepenggal ungkapan dari Imam Syafi'i:

"Perhaps what you fear is never meant to be,
and what you hope for is on its way to you."



Minggu, 25 September 2016

REWIND THE TIMES


“Suratan dari Masa Lalu”
1 Maret 2013
“Seperti sosokmu yang menghilang di kelokan jalan cemara jajar, malam hadir tanpa tinggalkan secuil bintang, bulan pun tak tersisa lagi. Kesendirian sesakku dalam nestapa tak bermuara, sementara penantian hadirmu, hanya menjadi sebongkah asa tak berjiwa, tanpa makna.”

24 Oktober 2012
“Sejenak aku memandangi dirimu dari tepi, saat engkau duduk manis menantikan kehadiran seseorang. Hingga dari jauh, nampak sosok pemuda yang engkau lihat dengan rias muka indahmu, kau yang beranjak dari tempat singgahmu, perlahan mengiringi hatiku dengan lantunan irama sendu. Meninggalkan sayatan-sayatan yang harum.”

12 Apri 2010
“Aku ingin menangis! Tapi hatiku mencegahnya. Aku ingin tertawa, akan tetapi hatiku tak merasa bahagia. Maka biarkanlah wajah datar ini menutupi hatiku. Karena aku takkan mampu berbuat apa-apa, untuk dirimu.”

End




Sedikit kutipan:
Terkadang hidup ini kita tak bisa merasakan, ataupun menikmatinya dengan jalan yang sesuai. Terkadang kita sebagai manusia mendapatkan sesuatu yang kita tidak sukai, namun itu bermanfaat bagi kita.
Terkadang kita mendapatkan apa yang kita sukai, namun itu tidaklah membuat kita berkembang tumbuh dalam kebaikan.

Khilaf bukanlah suatu permainan, yang mana kita bisa mengulanginya kapan pun kita inginkan.
Kebebasan yang kita miliki itu terbatas, terbatas dengan kebebasan orang lain.

Jika kita bergantung pada manusia, ia akan binasa.
Namun jika kita bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ia takkan pernah binasa.