Jaadugar: Anime yang Mengajarkan Bahwa Pengetahuan Bisa Lebih Menakutkan daripada Pedang
10:30 AM Hisheiji
Sebagian besar anime berlatar peperangan biasanya mengajarkan satu hal yang sama: orang yang paling kuat akan bertahan hidup. Pedang yang lebih tajam, pasukan yang lebih besar, atau tokoh utama yang memiliki kekuatan luar biasa hampir selalu menjadi penentu akhir cerita.
Namun, Jaadugar: A Witch in Mongolia justru berjalan ke arah yang berbeda.
Anime ini tidak memperlihatkan seorang gadis yang bangkit demi membalas dendam dengan mengangkat senjata. Sebaliknya, ia memilih sesuatu yang jauh lebih berbahaya: menggunakan pengetahuan.
Awalnya aku mengira judul "A Witch in Mongolia" benar-benar akan menghadirkan kisah fantasi tentang seorang penyihir. Nyatanya, "penyihir" di sini hanyalah sebuah julukan. Tidak ada mantra, tidak ada lingkaran sihir, dan tidak ada ledakan cahaya seperti yang biasa kita temukan dalam anime fantasi.
Yang ada hanyalah seorang perempuan yang menyadari bahwa kecerdasan mampu mengubah arah sejarah.
Di situlah letak menariknya.
Anime ini mengambil latar abad ke-13 ketika Kekaisaran Mongol sedang berada di puncak kejayaannya. Di tengah ekspansi besar-besaran tersebut, hiduplah seorang gadis Persia bernama Sitara yang kehilangan hampir seluruh hidupnya akibat invasi Mongol.
Jika ini anime biasa, mungkin Sitara akan berlatih bertahun-tahun, menemukan guru legendaris, lalu kembali sebagai pendekar yang membantai musuh satu per satu.
Namun, Sitara memilih jalan yang jauh lebih realistis.
Ia belajar.
Belajar membaca.
Belajar memahami manusia.
Belajar politik.
Belajar bagaimana sebuah kerajaan sebenarnya tidak hanya berdiri di atas kekuatan militer, tetapi juga di atas kepercayaan, informasi, dan keputusan-keputusan kecil yang dibuat orang-orang di dalamnya.
Saat itulah aku mulai merasa bahwa judul "penyihir" bukanlah sebuah kebetulan.
Bagi orang-orang pada masa itu, seseorang yang mampu memengaruhi keadaan hanya melalui kata-kata dan pikirannya tentu akan terlihat seperti memiliki kekuatan gaib.
Padahal yang mereka lihat bukanlah sihir.
Melainkan ilmu.
Aku juga menyukai bagaimana Jaadugar tidak mencoba menggambarkan balas dendam sebagai sesuatu yang heroik.
Sitara memang menyimpan kebencian kepada Mongol. Akan tetapi, seiring cerita berjalan, dendam bukan lagi menjadi tujuan utamanya. Ia mulai memahami bahwa mengubah sebuah sistem jauh lebih sulit daripada mengalahkan satu orang.
Dan mungkin, jauh lebih berarti.
---


0 comments :
Posting Komentar